Genius Mind Consultancy (GMC) – Tips or Trick

By : Hai hai

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan oleh siaran beberapa televisi swasta tentang fenomena yang membuat sebagian orang penasaran dan sebagian lainnya gelisah. Beberapa anak menunjukkan kemampuan mereka menebak warna kertas, jenis kartu remi, membaca bahkan naik sepeda dengan mata tertutup sebuah selendang. Pertunjukkan itu menuai berbagai reaksi: Ada yang menganggapnya sebagai penemuan ilmu pengetahuan yang luar biasa, ada yang menganggapnya sebagai kekuatan mistik yang dibungkus dengan topeng ilmu pengetahuan, namun ada pula yang menyangkanya sebagai muslihat untuk mencari uang gampang. Apa yang sesungguhnya terjadi? Apabila itu adalah muslihat, kenapa tidak ada orang yang menguaknya? Apabila itu adalah kekuatan mistik, bagaimana membuktikannya? Apabila itu adalah penemuan ilmiah, kenapa tidak dimuat di dalam jurnal-jurnal ilmu pengetahuan? Handai taulan sekalian, sebagai seorang Tionghoa Kristen, seorang yang takut akan Tuhan, seorang warga negara Indonesia yang peduli dengan pendidikan anak-anak Indonesia, izinkan saya MENGUJI fenomena itu di depan banyak saksi.”

Memberanikan diri bertanya, beberapa stasiun televisi di Indonesia menyiarkan:

GMC dalam berita

Healty Life Metro TV – Aktifkan Otak Tengah

silahkan klik di sini

Aktivasi Otak Tengah Di Indonesia – Bianglala – TVRI Jawa Barat

silahkan klik di sini

GMC surabaya dalam Liputan6 SCTV

silahkan klik di sini

Kursus Genius di seputar indonesia RCTI

silahkan klik di sini

Di dalam situsnya, Genius Mind Consultancy Indonesia (GMC) menulis:

Sebuah penemuan yang baru adalah metode yang berbeda dengan lainnya. Berdasarkan ilmu psikologi yang luar biasa, teknik kegeniusan mutakhir, neurolinguistik, ilmu komunikasi, ilmu tingkah laku dan lain sebagainya serta menggunakan teknologi komputer ilmiah mutakhir, dalam waktu yang sangat pendek yaitu satu setengah hari, dapat berhasil mengaktifkan midbrain anak-anak. Hal ini merupakan sebuah prestasi yang dikagumi oleh orang-orang di luar dan di dalam negeri dan juga merupakan kehormatan bagi umat manusia modern.

Umumnya, setelah midbrain diaktifkan, daya ingat mereka dapat meningkat, daya konsentrasi membaik; daya kreasi bertambah, gerakan kinetik juga menjadi lebih baik, hormon menjadi seimbang, serta emosi menjadi stabil dan lain sebagainya. Aktivasi ini sangat jelas terlihat hasilnya bagi anak hiperaktif maupun anak dengan daya ingat yang lemah.

Melalui teknik “Genius Mind”, pelatihan ini disebarluaskan; yang dinamakan dengan “Metode Belajar Midbrain”. Berdasarkan penjelasan para ahli, setelah midbrain diaktifkan, midbrain akan dapat mengeluarkan gelombang otak untuk merasakan dan bereaksi terhadap benda-benda di luar. Dapat dikatakan juga bahwa dengan menutup mata, masih dapat mengenali benda-benda, huruf, warna dan lain sebagainya. Jadi, dengan pelajaran dan pelatihan selama satu setengah hari, akan dapat membantu anak “melihat” dengan menutup mata.

Untuk membaca tulisan lengkapnya silahkan klik di sini.

Bengcu Menjawab

Belajar adalah suatu keharusan. Belajar sekarang atau belajar nanti, belajar pelan-pelan atau belajar sekaligus. Selama masih hidup manusia harus belajar. Andai tidak belajar sekarang karena merasa belum perlu,  pasti tidak akan belajar nanti ketika perlu karena merasa tidak keburu.

Ada yang belajar sekali langsung bisa ada yang belajar berkali-kali baru bisa namun yang namanya BISA itu hanya satu. Meskipun belajar seribu kali baru mengerti namun tetap disebut orang yang BISA.

Hakekat Belajar

Tak peduli siapapun penemunya dan apapun nama metode belajarnya, namun faktanya hanya SATU. Metode membuat orang tua percaya dan anak-anak suka belajar. Namun, yang membuat anak-anak menjadi ISTIMEWA adalah BELAJAR berulang-ulang. Anak-anak menjadi hebat karena mereka terus belajar dan berlatih. Belajar dan berlatih berulang-ulang, itulah kuncinya. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi pintar karena satu-satunya jalan adalah:

Belajar dan berlatih berulang-ulang

Tips atau Trick?

Handai taulan sekalian, pada saat ini, saya tidak akan membahas teori-teori pendidikan anak-anak maupun teori-teori tentang otak. Nama saya hai hai, panggil saja suhu hai hai bila itu membuat anda merasa lebih nyaman.

Saya TELAH MENGAKTIVASI otak tengah seluruh umat manusia normal yang hidup dalam generasi ini. Karena GMC mengajarkan bahwa Blindfold Reading alias Membaca Dengan Mata Tertutup adalah BUKTI otak tengah yang telah diaktifkan, maka SAYA, SUHU hai hai, MENJAMIN: BILA anda MAMPU membaca TULISAN ini, maka anda pun akan MAMPU melakukan SEMUA yang dilakukan oleh anak-anak di dalam FOTO-FOTO.

Untuk membuktikan bahwa saya tidak MEMBUAL, maka lakukanlah hal ini: Ambilah sebuah kain atau sapu tangan besar atau selendang atau handuk atau dasi atau sabuk Taekwondo, Karate, Silat, Kungfu atau kain apa saja yang bisa dibentuk menjadi sebuah PITA dengan lebar kurang lebih 3-4 jari atau + 5 – 7 Cm seperti yang digunakan oleh anak-anak di dalam foto-foto di atas. Kain itu jangan terlalu tipis, bila anda hanya memiliki kain tipis, lipatlah agar menjadi tebal. Kain yang agak tebal dan kaku sangat ideal karena itu menjamin bahwa pori-pori kain benar-benar rapat dan  mata anda benar-benar tertutup dengan baik. Jangan takut dengan yang tebal! karena setelah diaktivasi oleh suhu hai hai, anda akan melihat dengan gelombang otak tengah, bukan?

Ajaklah seorang teman atau lebih untuk menjadi saksi bahwa SUHU hai hai sama sekali tidak MEMBUAL ketika menyatakan bahwa dia telah mengaktivasi otak tengah seluruh umat manusia yang hidup dalam generasi ini itu sebabnya anda memiliki KESAKTIAN untuk melakukan Blindfold Reading alias melihat dengan mata tertutup kain juga untuk melihat kesaktian yang akan anda tunjukkan setelah mendapat PENCERAHAN.

Pejamkan mata anda lalu gunakan kain pita itu menutupi mata anda lalu ikatlah dengan baik. Jangan ikat terlalu kencang, karena akan menghambat peredaran darah anda. Jangan biarkan kain pita itu menutupi telinga karena akan menghalangi pendengaran anda. Setelah mata anda tertutup dengan baik, duduklah dengan santai, lalu bukalah mata anda. SUHU hai hai menjamin anda PASTI mendapat pencerahan.

Handai taulan sekalian, bagi anda yang percaya akan kekuatan kuasa-kuasa kegelapan, tidak ada salahnya bagi anda untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Berdoalah! Berdoalah menurut keyakinan anda masing-masing. Terserah apakah anda mau berdoa menolak AKTIVASI dari suhu hai hai atau mengucap syukur karena telah diaktivasi oleh suhu hai hai. Namun perlu anda ketahui, suhu hai hai adalah seorang Tionghua Kristen.

Menguji Aktivasi Otak Tengah

Handai taulan sekalian, karena otak tengah anda sudah diaktivasi oleh suhu hai hai sehingga  mampu melakukan semua yang dilakukan oleh anak-anak di dalam foto-foto tersebut di atas dengan mata tertutup, maka marilah kita mencatat apa yang terjadi pada anak-anak diakui telah diaktivasi otak tengahnya. Inilah fakta-fakta yang kita lihat:

  1. Mata anak-anak tersebut ditutup dengan selendang yang menurut saya lebarnya kira kira 3 jari atau sekitar 5 cm.
  2. Selendang yang digunakan tidak menutupi telinga atau bila menutupi telinga, maka tidak menutupi semua telinga, telinga bagian bawah tidak tertutup.
  3. Barang-barang yang dilihat letaknya selalu di bawah mata, tidak pernah sejajar dengan mata apalagi lebih tinggi dari mata.
  4. Ketika melihat barang yang akan ditebak atau diwarnai, kepalanya agak mendongak. Hal yang sama juga terjadi ketika naik sepeda.
  5. Anak yang ditutup matanya bebas untuk mengucek-ngucek matanya dan membenarkan letak selendang yang menutup matanya.

Mari Menguji Yang Kekeh Jumekeh

Handai taulan sekalian, apabila ada yang kekeh jemekeh menyatakan yang terjadi pada anak-anak yang diakui telah diaktivasi otak tengahnya tidak seperti yang anda alami setelah otak tengahnya diaktivasi oleh suhu hai hai, maka ujilah mereka seperti ini:

Lapisan Penutup Mata

Ketika seseorang memejamkan mata, maka matanya tertutup oleh SATU lapis penutup yaitu kelopak mata. Ketika memejamkan mata dan ditutup dengan selendang, itu berarti matanya tertutup oleh DUA lapis penutup yaitu kelopak mata dan kain selendang, bila selendang penutup ditambah, itu berarti lapisan penutupnya pun bertambah.

Apabila anak-anak yang telah diaktivasi otak tengahnya mampu melihat tembus dua lapis penutup, bahkan berlapis-lapis penutup, itu berarti mereka PASTI mampu melihat dengan SATU lapis penutup alias mata terpejam tanpa selendang penutup.

Apabila anak-anak itu TIDAK mampu melihat dengan mata terpejam tanpa penutup, itu berarti MUSTAHIL mereka mampu melihat dengan dua lapis bahkan berlapis-lapis penutup. Saya yakin anak-anak yang diakui telah diaktivasi otak tengahnya itu MUSTAHIL menunjukkan kesaktiannya dengan mata terpejam tanpa selendang penutup mata.

Atas kegagalannya melewati pengujian, kemungkinan besar anda akan mendapat jawaban: Menutup mata dengan selendang adalah cara untuk meyakinkan anak-anak tersebut bahwa mereka MUSTAHIL bisa melihat. Dengan keyakinan MUSTAHIL bisa melihat maka mereka tidak akan BERUSAHA melihat namun benar-benar FOKUS mengerahkan seluruh kemampuan otak tengahnya yang telah diaktivasi.

Apabila jawaban demikian memang menyatakan kondisi sebenarnya, itu berarti menggunakan kaca mata renang yang kacanya ditutup lakban akan memberi dampak yang lebih baik kepada anak-anak tersebut. Namun bila anda mencobanya, saya yakin anak-anak itu akan menolak dengan alasan sakit atau tidak nyaman. Saya yakin anak-anak yang diakui telah diaktivasi otak tengahnya itu MUSTAHIL menunjukkan kesaktiannya bila mereka menutup mata dengan kaca mata renang.

Gelombang Otak Tengah

Kenapa barang-barang yang ditebak harus diletakkan lebih rendah dari mata?

Menurut GMC Indonesia gelombang otak tengah bekerja seperti gambar tersebut di atas. Itu sebabnya semua benda yang ditebak harus diletakan lebih rendah dari dagu.

Kenapa barang-barang yang ditebak harus dekat dengan tubuh? Karena anak-anak yang baru diaktivasi, gelombang otak tengahnya belum bisa mencapai jarak yang jauh.

Handai taulan sekalian, apabila anda mendapat jawaban-jawaban demikian, ujilah mereka berdasarkan jawaban demikian.

Berdasarkan cara otak tengah memancarkan gelombangnya, itu berarti bila si anak membuka mulutnya, maka gelombang otak tengahnya akan memancar tanpa halangan sama sekali. Semakin lebar mulutnya terbuka, semakin lancar gelombang otak tengahnya terpancar. Mintalah si anak menebak gambar sambil membuka mulutnya. Beri keringanan kepada anak-anak itu, tutuplah mata mereka dengan kain tipis yang teksturnya lemas, misalnya kain sutra atau lenan.

Saya yakin anak-anak yang diakui telah diaktivasi otak tengahnya itu MUSTAHIL menunjukkan kesaktiannya bila mata mereka ditutup dengan kain tipis yang lemas dan mereka melihat dengan mulut menganga. Jangan anggap enteng kain tipis bertekstur lemas. Ketika digunakan menutup mata, kain demikian akan menutupi mata dengan sempurna karena bentuknya kontur wajah yang ditutupi.

Berdasarkan cara gelombang otak tengah bekerja, maka anak-anak yang diakui telah diaktivasi otak tengahnya akan mudah sekali menebak kartu yang ditempelkan pas di antara mulut dan dagu mereka. Bukankah jaraknya dekat sekali? Saya yakin anak-anak yang diakui telah diaktivasi otak tengahnya itu MUSTAHIL menunjukkan kesaktiannya dalam kondisi demikian.

Bila para trainer GMC menyatakan kegagalan itu terjadi karena gelombang otak belum menyebar melebar ketika dekat dengan otak, maka mintalah anak-anak itu menebak warna gambar kecil atau menebak warna saja.

Teknik Mengikat Selendang

Apabila anda diperkenankan untuk menjadi sukarelawan yang mengikatkan selendang kepada anak-anak tersebut, lakukanlah. Anda pasti akan diingatkan untuk jangan mengikat selendang itu terlalu keras, karena anaknya akan merasa sakit. Anda memang tidak perlu mengikat dengan keras. Ikatlah sewajarnya, hanya agar selendang itu tidak jatuh. Yang perlu anda perhatikan adalah letak selendang itu ketika menutup mata.

Ketika mata terpejam, maka kelopak mata akan menutupi mata dari atas ke bawah. Mata yang setengah terpejam adalah mata yang bagian atasnya tertutup namun bagian bawahnya tidak tertutup.  Fakta demikian memberitahu kita bahwa ketika menutup mata dengan selendang, maka bagian bawah jauh lebih penting daripada bagian atas mata karena bagian atas mata pasti tertutup oleh kelopak mata. Bila anda mengikat dengan cara demikian, percayalah, anak itu akan berusaha menggeser selendang ke atas. Bertanyalah kepadanya dengan santai kenapa dia harus menggesernya ke atas? Bila anak yang anda hadapi cukup muda, maka kemungkinan besar dia akan menjawab secara reflek, “Soalnya nggak kelihatan.” Nggak kelihatan itu berarti bila selendang digeser ke atas akan kelihatan. Kelihatan berarti melihat dengan mata.

Bila anda menutup terlalu bawah, kemungkinan anak yang pinter yang telah diajari akan menolak dengan alasan telinganya tidak boleh tertutup semua atau telinganya tidak boleh tertutup. Ikutilah kemauannya tutuplah matanya sebawah mungkin tanpa menutup telinganya. Saya yakin anak-anak itu akan kesulitan menunjukkan kesaktian otak tengah yang diakui telah diaktivasi bila selendang menutup mata sebawah mungkin. Anak-anak tanpa dosa itu pasti secara reflek akan menggeser penutup matanya.

Teknik Mengikat Dan Lebar Kain Penutup

Handai taulan sekalian, coba perhatikan ketiga foto si gondrong. Apa yang anda lihat? Bukankah anda melihat mata seseorang yang ditutupi kain batik yang tebal? Benar! Di dalam ketiga foto itu matanya ditutupi dengan delapan lapis kain baik. Apabila orang tersebut adalah orang biasa, bukan orang sakti apalagi orang yang otak tengahnya sudah diaktivasi oleh GMC, mungkinkah dalam kondisi demikian, dia mampu membedakan dan menebak kartu warna, menebak kartu, mewarnai gambar, membaca, makan, main catur, berjalan di atas papan titian yang lebarnya 8 cm dan naik sepeda bahkan mengendarai motor dan mobil? Handai taulan sekalian, orang di dalam gambar tersebut MEMANG mampu melakukan semua hal yang disebutkan dan anda pun mampu melakukannya bila tahu caranya bukan karena otak tengah anda diaktivasi.

Sesungguhnya, dibalik selendang penutup, mata orang itu sama sekali tidak terpejam. Walaupun NAMPAK tertutup selendang batik, sesungguhnya dia bisa melihat melalui BAGIAN bawah selendang batik tersebut. Dia mampu membedakan dan menebak kartu warna, menebak kartu, mewarnai gambar, membaca, makan, main catur, berjalan di atas papan titian yang lebarnya 8 cm dan naik sepeda bahkan mengendarai motor dan mobil karena dia bisa melihat melalui BAGIAN bawah selendang batik tersebut. Ketika penonton menyangka selendang batik tersebut menutupi matanya sesungguhnya yang terjadi adalah hal sebaliknya, selendang itu membut penonton tidak TAHU bahwa dalam kondisi demikian orang tersebut bisa melihat. Itulah Trick sulap yang disebut blindfold reading.

Handai taulan sekalian, tahukah anda kenapa semua benda-benda yang ditebak dan dimainkan itu diletakkan di bawah mata dan ketika tidak mampu melihat dengan baik, maka benda itu akan didekatkan ke hidung dengan pura-pura menciumnya? Karena dia melihat dari BAGIAN bawah selendang yang menutupi matanya. Itu sebabnya ketika melihat benda yang lebih jauh, dia  perlu mendongak sebab dia melihat dari BAGIAN bawah selendang. Meraba, mendengar, mencium hanya aksi untuk meyakinkan penonton.

Handai taulan sekalian, bagaimana anda tahu bahwa yang saya tulis itu benar? Anda akan tahu setelah mencobanya sendiri.

Dalam pertunjukkan demikian, umumnya selendang diikat oleh seorang sukarewan. Pejamkan mata anda kencang-kencang lalu biarkan dia menutup mata anda dan mengikat selendang itu. Bila dia mengikat terlalu kuat, minta dia mengendurkannya dengan alasan rasa sakit akan mengganggu konsentrasi anda. Bila kain selendang menutupi telinga, itu berarti dia mengikat terlalu bawah. Beritahu dia bahwa anda memerlukan telinga untuk membantu anda menunjukkan kesaktian, mintalah dia membebaskan telinga anda dari selendang atau jangan biarkan selendang menutupi seluruh telinga anda. Separuh telinga tertutup adalah batas maksimal.

Setelah selendang terikat dengan baik, cobalah buka mata anda dan berusahalah melihat dari bagian bawah selendang. Bila anda tidak dapat melihat dengan baik, mungkin itu karena selendangnya diikat terlalu kencang atau terlalu ke bawah. Mungkin pula kain selendang itu terlalu lemas. Melipat kain selendang lebih tebal akan membuat tektur kain lebih kaku. Tekstur kain batik yang digunakan orang tersebut sangat lemas, itu sebabnya setelah dilipat delapan lapis baru didapat kekakuan yang cukup ideal.

Pejamkan mata keras-keras lalu bukalah, itulah cara untuk menggeser penutup mata agar anda mendapatkan kondisi yang paling nyaman. Ketika membuka mata dan merasakan bagian bawah selendang menyentuh kelopak mata bawah, anda merasa kuatir Trick anda akan ketahuan karena penonton bisa melihat dengan gamblang mata anda melotot dari bagian bawah selendang. Jangan kuatir, itulah kondisi di dalam ketiga foto tersebut di atas.

Trick sulap ini paling mudah dilatih bersama teman. Dia akan mengamati sebagai penonton sementara anda mencari letak selendang yang paling nyaman tanpa ketahuan penonton. Selendang yang lebih lebar seperti yang digunakan dalam ketiga foto di atas akan membuat kesan yang lebih baik. Namun resikonya adalah anda harus berlatih untuk menentukan batas bawahnya ketika mengikat. Bila selendang terlalu bawah, maka anda tidak akan bisa melihat dengan baik bahkan tidak bisa melihat sama sekali. Bila anda yang mengikat selendang itu sendiri atau teman yang tahu Trick itu yang mengikatnya dan telah berlatih mengikat anda dengan benar, maka selendang yang lebar adalah keuntungan karena menambah kesan betapa rapatnya mata anda tertutup. Namun bila selendang diikat oleh sukarelawan, maka saya anjurkan anda untuk menggunakan selendang standard. Berdasarkan pengalaman, lebar selendang penutup mata yang ideal lebarnya kira-kira 3 – 4 jari tangan atau 5 – 7 Cm.

Kesimpulan

Handai taulan sekalian, apakah yang ditunjukkan oleh anak-anak yang diakui telah diaktivasi otak tengahnya itu adalah trik sulap yang saya sebutkan atau memang kesaktian karena otak tengahnya telah diaktivasi? Saya siap untuk menerima tantangan guna membuktikannya di depan banyak saksi bahkan di depan aparat hukum sekalipun.

Sebagai seorang Tionghua Kristen, saya menghimbau semua orang Kristen baik para orang tua yang anaknya diakui telah diaktivasi otak tengahnya maupun kepada seluruh trainer GMC Kristen serta orang Kristen lainnya untuk menguji apa yang sesungguhnya terjadi.

Sebagai seorang Tionghua yang takut akan Tuhan, saya menghimbau semua orang yang takut akan Tuhan untuk menguji apa yang sesungguhnya terjadi.

Sebagai seorang ayah yang peduli pada pendidikan anak-anak, saya menghimbau semua orang tua yang peduli pada pendidikan anak-anak untuk menguji apa yang sesungguhnya terjadi.

Sebagai seorang warga negara Indonesia, saya menghimbau semua warga negara Indonesia yang peduli pada pendidikan anak-anak untuk menguji apa yang sesungguhnya terjadi.

Sebagai seorang warga dunia, saya menghimbau semua warga yang peduli pada pendidikan anak-anak untuk menguji apa yang sesungguhnya terjadi.

Tips atau Trick? Bila Tips, PUJI Tuhan! Bila Trick, kebenaran harus ditegakkan!

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Mengaktivasi Otak Tengah? Pikirkan dulu Bahayanya!
    * Sampai hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang menyatakan
    bahwa otak tengah dapat diaktifkan untuk meningkatkan kecerdasan
    manusia, apalagi meng-upgrade nya menjadi jenius.

    * Induksi lateralisasi aktifitas otak tengah menurut sebuah tulisan
    ilmiah tahun 2005 malahan dapat mengakibatkan mental stress (tekanan
    mental) dan berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama
    jantung dan kematian mendadak (sudden death).

    Tulisan : Lely Setyawati Kurniawan*
    * Psikiater, Staf Dosen di Bagian Psikiatri FK. Udayana/RSUP Sanglah
    Denpasar, konsultan Forensik Psikiatri.

    Pendahuluan

    Perdebatan mengenai otak tengah; perlu tidaknya otak tengah
    tersebut diaktifkan; terus terjadi. Masyarakat makin memahami
    pentingnya menyeimbangkan kedua belahan otak kanan dan kiri, karena
    masing-masing belahan tersebut memiliki beragam fungsi yang saling
    mengisi dalam perjalanan panjang kehidupan seorang manusia.
    Ironisnya seolah belum puas dengan kekayaan kedua belahan otak kita,
    sekelompok ilmuwan mulai mengotak-atik dan mencari bagian lain, yang
    dinamakan otak tengah. Mereka mencari tahu apakah dengan mengaktivasi
    otak tengah kecerdasan seseorang akan makin bertambah, atau mengubah
    mereka menjadi jenius, serta memiliki berbagai kecerdasan lain yang
    supra-natural?
    Di kalangan medis otak tengah ini dikenal sebagai bagian dari
    otak manusia yang memiliki fungsi sangat vital, misalnya sebagai pusat
    pengendali jantung, pembuluh darah, pernafasan, * refleks-refleks, dan
    masih banyak lagi. Berbagai tulisan ilmiah mengenai otak tengah ini
    bisa kita baca dalam berbagai tulisan sepuluh tahun terakhir.
    Sayangnya sampai hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang
    berani menyatakan bahwa aktivasi otak tengah berhubungan dengan
    kecerdasan seseorang, apalagi membuat IQ seseorang meloncat jauh
    melebihi IQ manusia pada umumnya, atau dikenal dengan istilah jenius.
    Dahulu orang berpikir bahwa kecerdasan identik dengan IQ,
    meskipun mereka mengetahui dalam test IQ yang diukur hanyalah
    kecerdasan seseorang di bidang matematika, linguistik dan sedikit
    visuo-spatial.
    Saat ini wawasan kita mulai terbuka, melalui hasil penelitian Prof
    Gardner di tahun 1980an diketahui bahwa ada delapan jenis kecerdasan
    yang berbeda yang bisa dimiliki oleh masing-masing kita dalam porsi
    yang berbeda. Masing-masing kecerdasan tersebut menempati area yang
    berbeda di sisi kiri dan kanan otak kita. Kecerdasan yang bervariasi
    ini disebut Kecerdasan Multipel (Multiple Intelligence).
    Sehubungan dengan otak tengah tadi, muncul pertanyaan, adakah
    hubungan antara kecerdasan ini dengan fungsi otak tengah / mid brain
    seseorang? Benarkah aktivasi otak tengah membuat seseorang makin
    cerdas dan jenius, karena memiliki kemampuan supra-natural?

    Anatomi dan Fungsi Otak

    Pada saat lahir seorang anak memiliki 100 miliar sel otak yang
    disebut sel neuron – jumlah ini sama dengan banyaknya bintang di
    galaksi Bima Sakti – serta 1 Triliun sel glia, yang berfungsi sebagai
    sel pelindung bagi sel-sel otak tadi. Pembentukan sel-sel otak ini
    dimulai sejak minggu ketiga sel sperma membuahi sel telur, dengan
    kecepatan tumbuh 250 ribu sel/menit. Pada minggu kesepuluh sel-sel
    otak menjadi makin sibuk mempersiapkan diri agar bisa mulai menerima
    stimulus / rangsangan dari luar.
    Saat usia 3 tahun telah terbentuk 1000 triliun jaringan koneksi /
    sinapsis, jumlah ini ternyata 2 kali jumlah jaringan orang dewasa.
    Satu sel otak mampu menjalin 15 ribu koneksi dengan sel lain, jaringan
    yang sering digunakan akan semakin kuat dan permanen, tetapi yang
    jarang digunakan akan mati.
    Otak manusia dibagi menjadi enam divisi utama, yaitu Serebrum,
    Diensefalon (kedua bagian ini sering disebut sebagai Forebrain /
    Pro-ensefalon), Serebelum, Midbrain (Mesencephalon), Pons dan Medula
    Oblongata. Tiga bagian terakhir ini disebut brain stem atau batang
    otak.
    Midbrain (Mesensefalon) terdiri dari superior colliculi dan inferior
    colliculi. Superior colliculi merupakan pusat refleks gerakan kepala
    dan bola mata ketika berespon terhadap rangsang visual, sedangkan
    inferior colliculi merupakan pusat refleks gerakan kepala dan tubuh
    ketika berespon terhadap rangsang suara.

    Menjadi Jenius?
    Nah dikaitkan dengan janji, cukup dengan mengaktifkan otak tengah
    (mesensefalon) mampu membuat seorang manusia menjadi jenius; Apakah
    definisi jenius? Range IQ normal adalah 90 – 110. Dengan IQ normal
    seorang anak bisa tamat SMA, sebagian bahkan tamat S1. Di atas angka
    tersebut seseorang disebut Superior, di atasnya lagi adalah Very
    Superior, dan jika IQ nya lebih dari 180 orang akan disebut jenius.
    Seringkali peringkat IQ bisa membuat anak stres, padahal IQ tak bisa
    mengukur kecerdasan emosional (EQ) seseorang.
    Anak-anak yang sulit konsentrasi seringkali membuat kewalahan
    para orang-tua dan guru. Orang-tua dan guru menduga anak tersebut
    bodoh karena nilai akademik di sekolah sangat kurang, padahal bisa
    saja mereka ini sebenarnya memiliki kecerdasan yang baik, tetapi
    rentang waktu perhatian mereka sangat pendek.
    Rentang waktu perhatian ideal anak usia 5 tahun hanya berkisar 5
    menit saja, sedangkan anak-anak usia 15 tahun berkisar 15 menit. Untuk
    membuat mereka bertahan lebih lama, para pendidik diharapkan mampu
    menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Hal ini
    haruslah dilakukan secara berkala saat konsentrasi dan perhatian
    anak-anak mulai menurun.
    Dalam keadaan tertentu seperti takut, sedih akibat depresi dan
    berbagai stres / tekanan mental lainnya seseorang menjadi kehilangan
    daya konsentrasi, Orang-tua biasanya membawa anak-anak tersebut untuk
    berkonsultasi dengan psikiater ataupun psikolog dengan keluhan
    kesulitan belajar dan menurunnya prestasi akademik.
    Sebenarnya peranan orang-tua sangat besar untuk proses belajar
    seorang anak, apa yang orang-tua pikirkan, katakan dan lakukan akan
    terus melekat dalam benak anak-anak, mempengaruhi suasana dan
    kenyamanan belajar mereka dan mempengaruhi jalan hidup serta masa
    depan mereka. Anak-anak bisa mengalami kebahagiaan, atau sebaliknya
    depresi – sama seperti orang dewasa yang lain – karena perkataan dan
    tindakan orang-tua mereka.

    Mengaktivasi Otak
    Ada cukup banyak cara yang biasa dipakai untuk mengaktivasi otak,
    misalnya dengan alunan musik klasik (yang paling poluler karya-karya
    Mozart), lagu-lagu / instrumentalia tertentu, gerakan-gerakan tubuh,
    menciptakan suasana tertentu, bermain dengan angka-angka, menambahkan
    berbagai bahan chemical, dan masih banyak cara lainnya. Banyak
    institusi menawarkan berbagai pelatihan yang menjanjikan untuk
    meningkatkan IQ tersebut, dengan memasukkan berbagai metode yang
    diyakini dapat menghilangkan tekanan mental para peserta selanjutnya
    mempermudah pengaktifan bagian-bagian tertentu otaknya.
    Beberapa ilmuwan mencoba mempelajari tentang otak tengah / mid
    brain. Harapan mereka sesudah penemuan yang mencengangkan tentang kiri
    dan kanan, sekaranglah saatnya mengungkap fenomena tentang otak
    tengah. Metode yang digunakan bukan sekedar cara-cara klasik seperti
    yang kita kenal di atas, karena program neuro-linguistik (NLP) mereka
    sisipkan demi sebuah proses aktivasi yang nantinya mengarah pada suatu
    keadaan extra sensory perception (ESP).
    Suasana dibuat sedemikian rupa agar semua peserta yang ada di ruangan
    tersebut memasuki Alpha State, suatu fase dimana gelombang lambat di
    otak manusia, yang membuat seseorang mudah dipengaruhi dan diisi oleh
    berbagai hal oleh para instruktur. Metode yang cukup popular dikenal
    saat ini adalah BFR (blindfold reading).
    Sebagai informasi, di Rusia diperlukan waktu satu tahun bagi seorang
    siswa untuk mampu melakukan aksi blindfold. Di Jepang, sedikitnya
    perlu waktu tiga bulan untuk melakukannya. Ajaibnya di Indonesia
    suatu perusahaan pelatihan menyatakan hanya perlu waktu 12 jam untuk
    membuat anak-anak jenius!
    Aktivasi dianggap berhasil apabila mereka berhasil mengenali
    berbagai macam benda dan halangan di sekitarnya dalam keadaan mata
    ditutup. Dengan demikian anak-anak tersebut akan mampu membaca,
    menggambar, menghitung, berlari dan menghindari semua rintangan tanpa
    menggunakan indera penglihatan mereka yaitu mata.
    Bahkan mereka berani menjanjikan, anak-anak akan memiliki kemampuan
    tembus pandang, menyusun kartu remi secara urut tanpa melihat, dapat
    membaca suatu dokumen rahasia di balik tembok, menghitung uang yang
    ada dalam dompet di saku baju seseorang, merangkum seluruh isi
    textbook dalam waktu singkat, memprediksi hal-hal buruk yang bakal
    terjadi esok, bahkan membaca pikiran orang-orang yang ada di
    sekelilingnya agar tak mudah tertipu.
    Hal itu bagi mereka dianggap sebagai talenta manusia baru di jaman
    modern ini, karena memiliki kecerdasan tersendiri (jenius) dengan
    kemampuan extra sensory perception (ESP), sehingga nantinya kita tak
    lagi tertarik menonton acara pertandingan sulap The Master.
    Pandangan di atas tentu tidak begitu saja dapat dibenarkan,
    karena secara medis kita bisa mengenali fungsi fisiologi seluruh organ
    dalam tubuh kita. Mengaktifkan dan menciptakan seseorang untuk
    memperoleh pengalaman extra sensory perception sudah jauh melenceng
    dari ranah medis fisiologis.
    Bahkan hal ini erat kaitannya dengan terjadinya berbagai gangguan
    mental pada manusia, yang salah satu gejalanya adalah mampu
    mendengar, melihat, merasakan dan membaca hal-hal yang tidak bisa
    didengar, dilihat, dirasakan dan dibaca oleh orang-orang sehat
    lainnya. Sebagai contoh pada kasus-kasus Skizofrenia pasien merasa
    yakin dengan kemampuannya membaca isi hati dan pikiran orang-orang
    lain di sekelilingnya, serta meyakini berbagai penglihatan dan
    pendengaran gaib yang bisa membuat orang lain berdiri bulu kuduknya.
    Sampai hari ini belum ada satupun publikasi yang menyatakan
    bahwa otak tengah dapat diaktifkan untuk meningkatkan kecerdasan
    manusia, apalagi meng-upgrade nya menjadi jenius. Musa A. Haxiu &
    Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian midbrain pada 24
    ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi midbrain di daerah
    periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot
    polos pernafasan menjadi relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan
    hewan-hewan tersebut.
    Ada beberapa tahapan yang harus dilewati oleh suatu lembaga yang
    memiliki ide penelitian sebelum dilemparkan dan dimanfaatkan untuk
    kepentingan publik. Minimal telah melalui 10 tahun percobaan di
    laboratorium (in vivo), setelah lulus uji klinis, barulah diujikan
    pada hewan-hewan percobaan dengan evaluasi sekitar 10 tahun. Pada
    tahap ketiga barulah diujikan pada para relawan (biasanya mereka
    dibayar) dan kembali dilakukan evaluasi. Dengan demikian dibutuhkan
    waktu sekitar 30 tahun untuk membawa suatu metode baru yang aman dalam
    masyarakat.
    Menurut Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa
    hal yang berubah karena aktivasi midbrain, misalnya tekanan arteri
    utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood
    flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan
    daerah bawah jantung (Inferior cardiac), per-syaraf-an simpatis dan
    denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru
    turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun.
    Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa
    mencapai 328%.

    Peranan orang-tua
    Seringkali orang-tua terlalu sibuk sehingga tidak punya cukup
    waktu untuk memperhatikan buah hati mereka. Waktu 24 jam sehari terasa
    kurang, karena saat anak-anak berangkat sekolah pagi-pagi orang-tua
    tak bisa bangun dan mengantar mereka, mereka baru pulang kembali ke
    rumahnya pada malam hari sesudah anak-anak tertidur. Sebagai
    pembenaran diri sendiri para orang-tua sering berkilah, bahwa kualitas
    pertemuan mereka dengan anak-anak jauh lebih penting daripada
    kuantitas waktu. Benarkah?
    Sebuah intitusi bahkan berani menjanjikan bahwa dengan
    menyisihkan waktu 15-30 menit saja selama 20-30 hari untuk membantu
    anak-anak berlatih sama artinya dengan mendampingi mereka seumur hidup
    hingga usia 18 tahun. Semudah itukah hubungan orang-tua dengan anak
    terjalin? Cukupkah waktu yang hanya 15-30 menit tadi untuk berdiskusi,
    saling curhat, atau sekedar bermain bersama dan bercanda?
    Hubungan orang-tua dan anak tidak bisa dibatasi seperti halnya
    sebuah mata pelajaran di sekolah. Memang ikatan emosional diantara
    mereka akan sangat menentukan kualitas hubungan yang terjalin.
    Idealnya orang-tua memiliki waktu yang tak terbatas untuk
    anak-anaknya, demi sebuah proses kematangan dan kemandirian. Bahkan
    saat anak-anak beranjak dewasa dan menikah seringkali mereka masih
    ingin duduk bermanja-manja dengan orang-tuanya. Saat mereka menghadapi
    berbagai permasalahan hidup salah satu tempat yang nyaman untuk
    berbagi adalah orang-tua mereka.

    Target dan evaluasi pembuktian kejeniusan sesudah aktivasi otak tengah

    Sesudah melalui program latihan ini anak-anak akan mempunyi
    kemampuan untuk melihat dengan sentuhan (skin vision). Sebagian anak
    lainnya yang telah teraktifasi otak tengahnya mampu melihat kartu
    secara detail dengan penciuman atau pendengarannya. Sebagian lainnya
    mengatakan mereka mampu melihat, menulis, membaca, dan mewarnai di
    dalam kegelapan total. Selain itu mereka juga akan memiliki Loving
    Inteligence. Mereka adalah individu yang seimbang dan mengasihi orang
    lain seperti sang pencipta.
    Bagaimana dengan harapan orang-tua yang telah mengirim dan
    membayar biaya yang cukup tinggi demi mengikutkan anak-anak mereka
    dalam pelatihan ini? Setelah sekian bulan tentu saja para orang-tua
    berharap anak-anak mereka akan memiliki prestasi akademik yang lebih
    baik. Secara teoritis, nilai sekolah seharusnya meningkat, karena
    selepas aktifasi otak tengah tersebut, memori dan konsentrasi akan
    meningkat dan cukup banyak potensi penting dalam diri anak yang akan
    dibangkitkan. Namun kenyataannya tidaklah sesederhana itu karena
    peningkatan kemampuan akademis ternyata tidak sesederhana yang
    dibayangkan.
    Penelitian Bjorn H. Schott, Constanze I Seidenbecher dkk. (2006)
    menyatakan bahwa pada manusia, memory seseorang dipengaruhi oleh
    banyak faktor, jadi tidak sama dengan binatang. Telah dilakukan
    pembuktian secara anatomi dan behavior dengan mempergunakan alat MRI,
    diperoleh hasil yang tidak signifikan. Yang membedakan memori adalah
    faktor genetik (kromosome 17q11 dan 7q36), hal ini dikenal sebagai
    polymorphisme dopamine pada kromosom.
    Hal ini yang tentunya menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi
    masyarakat, karena sebelumnya orang-tua begitu antusias mengharapkan
    anaknya akan berubah menjadi anak-anak yang jenius dan memiliki banyak
    kemampuan lebih sesudah mengikuti program pelatihan otak tengah ini,
    lagipula orang-tua telah mengeluarkan sejumlah besar biaya.
    Menurut Bjorn H. Schott, Daniela B. Sellner dkk. (2004) terdapat
    hubungan erat antara formasi memori di hipokampus dan neuro-modulasi
    dopaminergik, terutama di Ventral Tegmental Area (VTA) dan medial
    Substansia Nigra midbrain. Teknik yang dipakai untuk mengaktivasi otak
    disesuaikan dengan lokasi, memakai kata-kata yang menyenangkan,
    hitungan-hitungan silabus, dan sebagainya. Namun aktivasi tersebut
    tidak relevan dengan tugas-tugas yang harus dipelajari.
    Tulisan Hugo D. Critchley, Peter Taggart dkk. (2005) membuat kita
    terperangah, karena ternyata induksi lateralisasi aktifitas midbrain
    dapat mengakibatkan mental stres, serta berbagai stres lain yang akan
    memicu gangguan irama jantung dan kematian mendadak (sudden death).
    Penyebabnya adalah karena tidak seimbangnya dorongan simpatetik
    persyarafan jantung.

    Perlukah aktivasi otak tengah?

    Orangtua perlu menghargai setiap talenta yang dimiliki
    anak-anaknya, karena pada dasarnya semua anak adalah cerdas.
    Kecerdasan ini tidak bisa disamakan dengan IQ, karena saat ini kita
    telah mengenal delapan macam kecerdasan, yang dikenal sebagai multiple
    intelligence yang ada dalam diri manusia. Mereka yang tidak bisa
    matematika dan IQ nya rendah bukan berarti tidak cerdas, karena
    mungkin saja mereka memiliki kecerdasan inter personal yang baik.
    Suatu tantangan bagi para orangtua dan kita semua yang memiliki
    anak, mampukah kita menghasilkan anak-anak yang bukan sekedar CERDAS,
    tetapi juga BAIK dan BERMORAL? Cerdas bahkan genius saja belumlah
    cukup. Karena dengan kecerdasan saja tidak menjamin mereka membuat
    dunia ini menjadi lebih baik. Banyak orang-orang cerdas justru
    mencelakai orang lain, memanipulasi suatu keadaan demi keuntungan
    dirinya sendiri.
    Mengapa dalam waktu 12 jam pelatihan atau satu setengah hari
    saja anak-anak tersebut bisa berubah? Salah satunya adalah kenyataan
    bahwa anak-anak dengan perilaku bermasalah sebenarnya membutuhkan
    perhatian dari orangtua mereka. Dalam program pelatihan midbrain
    tersebut semua orangtua diharapkan memperhatikan anaknya, mau melatih
    kembali anak-anak tersebut di rumah, termasuk setelah latihan selesai.
    Yang terjadi di sini sebenarnya adalah anak-anak tersebut dilatih
    untuk peka terhadap berbagai bahaya dan rintangan yang ada di depan,
    serta ‘dipaksa untuk bersikap dan berperilaku lebih baik’ karena
    mereka telah diberikan teladan yang baik oleh orangtua dan orang-orang
    dewasa di sekelilingnya.

    Penutup

    Yang terjadi pada anak-anak tersebut sebenarnya bukan JENIUS
    (memiliki IQ yang sangat tinggi atau di atas 140), melainkan latihan
    untuk suatu kewaspadaan (AWARENESS) terhadap apapun yang ada di
    sekeliling mereka.
    Kondisi semacam ini perlu kita cermati lebih baik, mengingat kondisi
    awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai
    gangguan jiwa, dari gejala yang ringan berupa Gangguan Cemas
    Menyeluruh, sampai tipe berat berupa Gangguan Paranoid.
    Itulah sebabnya orangtua diminta waspada dan berhati-hati sebelum
    mengirim anak-anak mereka ke suatu institusi yang menawarkan sanggup
    mengubah anak-anak menjadi jenius dalam waktu singkat.
    Orangtua perlu menghargai setiap talenta yang dimiliki
    anak-anaknya, karena pada dasarnya semua anak adalah cerdas. Suatu
    tantangan bagi para orangtua dan kita semua yang memiliki anak,
    mampukah kita menghasilkan anak-anak yang bukan sekedar CERDAS, tetapi
    juga BAIK dan BERMORAL? Cerdas bahkan genius saja belumlah cukup.
    Karena dengan kecerdasan saja tidak menjamin mereka membuat dunia ini
    menjadi lebih baik. Banyak orang-orang cerdas justru mencelakai orang
    lain, memanipulasi suatu keadaan demi keuntungan dirinya sendiri.

    Daftar Pustaka
    1. Adi W. Gunawan, Apakah IQ Anak bisa ditingkatkan, Gramedia Pustaka
    Utama, Jakarta, 2005.
    2. Musa A. Haxiu & Bryan K. Yamamoto, Activation of the midbrain
    periaqueductal gray induced airway smooth muscle relaxation, J. Appl.
    Physiol 93:440-449, 2002.
    3. Scott R. Wersinger & Michael J. Braun, Sexually dimorphic
    activation of midbrain tyrosine hydroxylase neurons after
    mating/exposure to chemosensory cues in the ferret, Biology of
    Reproduction 56, 1407-1414, 1997.
    4. Bjorn H. Scott, Constanze I Seidenbecher, et al: The dopaminergic
    midbrain participation in human episodic memory formation: Evidence
    from genetic imaging, The Journal of Neuroscience, February 1, 2006
    – 26(5): 1407-1417.
    5. Bjorn H. Schott, Daniela B. Sellner, et al, Activation of midbrain
    structures by associative novelty and the formation of explicit memory
    in humans, Learn. Mem. 2004 – 11: 383-387.
    6. Hugo D. Critchley, Peter Taggart, et al, Mental stress and sudden
    death: asymetric midbrain activity as a linking mechanism, J. Brain
    2005, 128, 75-85.
    7. Chao Guo, Hai Yan Qiu, et al, Lmx1b-controlled Isthmic organizer is
    essential for development of midbrain dopaminergic neurons, The
    Journal of neuroscience, Dec 24, 2008 – 28(52): 14097-14106.
    8. Peter D. Larsen, Sheng Zhong, Gerard L. Gebber & Susan M. Barman,
    Symphatetic nerve & cardiovascular responses to chemical activation of
    midbrain defense region, Am. J. Physiol Regulatory Integrative Comp.
    Physiol 280: R1704 – R1712, 2001.
    Diposkan oleh GRACE CENTER di 02:37
    12 komentar:

    Harry1 Mei 2010 10:15
    Tulisan ini patut jadi pertimbangan utk mengirim anak ke institusi aktivasi otak tengah, bukannya jenius yg didapat malah anak jadi depresi. Karena program aktivasi ini masih baru di Indonesia, maka kita blm tahu dampak jangka panjang terhadap si anak. Dalam bbrp artikel dikatakan bhw aktivasi tsb akan hilang tanpa pelatihan tiap hari, mungkin apabila si anak menunjukkan kelainan, maka latihan kita stop, tapi mungkin dampak psikologisnya tidak semudah itu dapat dihilangkan. Si institusi harusnya punya bukti otentik IQ sebelum dan sesudah aktivasi menunjukkan perbaikan yg nyata. Jika ada pengalaman pengalaman berkaitan dgn hal aktivasi otak tengah, boleh di share utk awareness kita semua. Terima kasih Bu Lely tulisan yg sangat berharga ini.

    Balas

    nday6 Mei 2010 00:16
    Terima kasih atas posting ini. Ternyata saya tidak sendirian, bersikap ekstra hati-hati (kalau tidak bisa dibilang curiga) terhadap segala sesuatu yang serba instan, khususnya terhadap tindakan ‘merekayasa’ otak manusia – anak-anak kita. Saya kira Tuhan menganugerahi kita semua kemampuan alamiah sejak lahir seperti yang kita miliki tentunya dalam kebijakan Ilahi. Di banyak situasi, manusialah yang seringkali memanfaatkan kecerdasannya secara tidak bijak dan melupakan hal-hal mendasar yang perlu kita pegang erat sebagai mahluk ciptaannya…

    Balas

    Rina12 Mei 2010 08:33
    Anak saya mengikuti program aktifasi otak tengah sejak november, tahun lalu, sejauh pemantauan saya hanya efek positif yg kami dapatkan, dlm pelajaran setelah kurang lebih 1 bulan kelihatan peningkatannya, konsentrasi dan daya tangkapnya jg meningkat,ada seorg guru yg tadinya dia tidak suka di sekolah karena dia tidak dpt mengerti yg diajarkan oleh guru itu, skg dia bilang guru itu jd enak mengajarnya, padahal saya tanya kepada teman2 anak saya, apakah ada yang berubah dari cara pengajaran guru itu, mereka bilang sama saja. dalam segi karakter,tadinya anak saya sangat emosional,klo dia marah dia akan banting2 barang yg ada didekatnya, tp sekarang saya lihat emosinya sangat stabil,dan dia jauh lebih pengertian dalam banyak hal, memang teori ibu diatas quite knowledgeble, tp sebelum mengirim anak2 saya ke institusi tersebut saya sudah cek dan browsing untuk mencari apabila ada keluhan negatif mengenai program ini dan sy tdk menemukan apapun, padahal program ini sudah ada sejak lebih dari 5 thn yang lalu.sekilas pengalaman saya dgn program ini.

    Balas

    Ira Dick Durell31 Mei 2010 01:01
    bu Rina, kalo cuman pingin anaknya bisa tenang & semua guru / pelajaran kelihatan menyenangkan ( ilusinya ), dateng aja ke ahli hipnosis, pasti hasilnya sama / lebih bagus karena kita bisa ikut mensuggesti si anak dengan seijin ahli hipnosisnya. Dengan begitu ibu tidak rugi biayanya yang jauh lebih murah dari 3,5 juta di gmc itu yah?

    Balas

    ibsbrain9 Juni 2010 21:51
    Terimakasih Bu Lely Jadi Pemicu untuk meneliti dan Menggali lebih dalam.
    Saya jadi ingat sejarah NLP dan Hipno di dunia Akademis, banyak yang mengkritisi dan Menolak. tetapi merasakan dan mengakui bahkan memakai.

    Saya awalnya ikut belajar dan Mengembangkan bagaimana Mengaktivasi Otak tengah.

    Selanjutnya setelah meneliti dan mengembangkan Metodenya ini, belajar dari metode di Jepang dan Tibet.kita kembangkan Whole Brain Stimulation, Bukan hanya Otak Tengah Tetapi keseluruhan. dengan target Bukan membuat anak jadi jenius ( IQ diatas 180 )dalam beberapa jam.

    tetapi meningkat :
    -Atensi
    -Memory
    -language
    -dan Kemampuan eksekutif nya

    Karena Metode ini menggabungkan Ilmu NLP dan Neurologi.

    Ada Ratusan level dalam Terapi dan Alat Audio dan Video yang sedang saya teliti, jadi tidak hanya sekedar entertaint atau malah di tuduh Mistis atau Supranatural

    Kritik saran untuk pengembangan

    Junni
    http://www.ibs.or.id

    Balas

    Ruds3 Juli 2010 11:42
    Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    Balas

    Ruds3 Juli 2010 11:46
    Saya mencermati tulisan ini, penulis mengatakan bahwa aktivasi otak tengah bertujuan meningkatkan IQ dengan luar biasa. Aktivasi otak tengah hanya untuk meningkatkan IQ, dengan mengesampingkan EQ. -> Benarkah???
    “Mengaktifkan dan menciptakan seseorang untuk memperoleh pengalaman extra sensory perception sudah jauh melenceng dari ranah medis fisiologis.” -> bgmn dg cerita orang buta dan tuli tetapi ahli memanah pada jaman nabi Muhammad?, bagaimana dengan Helen Keller?, bagaimana dengan sistem sonar pada lumba-lumba?
    “… mampu mendengar, melihat, merasakan dan membaca hal-hal yang tidak bisa didengar, dilihat, dirasakan dan dibaca… … kasus Skizofrenia pasien merasa yakin mampu membaca isi hati dan pikiran orang lain, yakin penglihatan dan pendengaran gaib ….” -> apakah begini patogenesis terjadinya skizofrenia, dimulai dari kemampuan mendengar/melihat/merasakan hal-hal yang orang sehat tidak bisa? Atau, apakah pada orang skizofrenia otak tengah mereka teraktivasi?
    “Bryan K. Yamamoto (2002) … justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan menjadi relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut.” -> setelah saya baca artikelnya tidak ada yang menyatakan bahwa karena relaksasi otot maka pernapasannya menjadi terganggu. Malah berpengaruh baik pada asma. (The bronchodilation and
    withdrawal of cholinergic outflow that were observed after administration of morphine or morphinelike substances (12) may also be evoked by way of the vl PAGand GABA-containing neurons that project to AVPNs. Alteration in this pathway may be an important central component of exercise or emotional stress-related deterioration of airway functions, particularly in asthmatic subjects.)
    “Minimal telah melalui 10 tahun percobaan di laboratorium (in vivo)” -> bukankah ini seharusnya in vitro? (In vivo = dalam mahluk hidup)
    “Sebuah intitusi bahkan berani menjanjikan bahwa dengan menyisihkan waktu 15-30 menit saja selama 20-30 hari untuk membantu anak-anak berlatih sama artinya dengan mendampingi mereka seumur hidup hingga usia 18 tahun.” -> apakah benar seperti ini yang dikatakan oleh mereka?
    “Yang terjadi di sini sebenarnya adalah anak-anak tersebut dilatih untuk peka terhadap berbagai bahaya dan rintangan yang ada di depan, serta ‘dipaksa untuk bersikap dan berperilaku lebih baik’ karena mereka telah diberikan teladan yang baik oleh orangtua dan orang-orang dewasa di sekelilingnya.” -> Memang seharusnya kan seperti yang penulis katakan ini, anak “dipaksa” untuk bersikap dan berperilaku lebih baik dengan teladan yang baik dari orang tua dan lingkungan sekitarnya.

    Namun demikian tetap saya haturkan terima kasih atas tulisan bu Lely ini, paling tidak memberi kewaspadaan kepada kita mengenai hal yang baru di Indonesia: “aktivasi otak tengah”. Sekian.

    Balas

    rubikscubeindonesia26 Juli 2010 05:58
    Mohon dibaca thread ini sebagai informasi: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4804278
    Semoga kita bisa lebih berhati-hati…

    Balas

    Eling_Sembhada20 September 2010 09:24
    masa atau fase anak yang hilang disaat pertumbuhan si anak, dipastikan akan muncul diusia beikutnya, entah di usia berapa.karena pada hakekatnya perkembangan atau pertumbuhan anak, adalah serangkaian dari masa atau fase” kehidupan yang tidak bisa dihilangkan, hanya sangat mungkin terlewati atau sengaja dilewati. Begitu kata dosen pengampu mata kuliah, perkembangan peserta didik saya beberapa tahun lalu. Dewasa ini banyak sekali anak yang menjadi korban dari opsesi atau impian para orang tuanya, yang kadang kita lupakan adalah, anak sudah diciptakan dan disediakan ‘jalan’ oleh -Nya. Biarkan anak” kita tumbuh dan berkembang seperi fitrahnya dengan bekal yang terbaik yang kita miliki. memberikan bekal terbaik, bukan berarti memaksakan anak menjadi seperti apa yang kita inginkan. waallah huallam.

    Balas

    Budi25 Januari 2011 03:52
    Saya melihat yang sama dengan apa yang ditulisa oleh Ruds diatas. Terjadi banyak celah dalam penulisan ini, data2 tidak jelas.

    Saya sendiri ga paham betul tentang otak tengah ini, entah baik atau buruk. Tapi ketika ada sikap waspada dan kritis tolong disampaikan dengan baik dan benar, tidak sepotong-sepotong seperti tulisan ini. Jika memang anda mau meyakinkan pembaca dengan penulisan data dan pengetahuan ilmiah, kualitas tulisan ini jauh dari ilmiah dan meyakinkan…

    Saya pribadi percaya bahwa “rahasia terbesar manusia adalah manusia itu sendiri” jadi ketika ada hal2 yang “tidak biasa” mohon ditanggapi dengan bijak dan cerdas.

    Saya masih cukup bersabar dengan tidak menuduh anda sengaja menulis untuk menjelek2an pihak tertentu. Pesan saya, tolong sampaikan kritisi anda dengan layak, cerdas dan bertanggung jawab.

    Terima kasih.

    Balas

    Eva Ilyas12 April 2011 15:57
    Terimaksh posring yg bagus skali…
    sebagai orang yang peduli dg pendidikan , wajib kiranya hal ini kt pahami dan sampaikan ke yg lain. Agar orangtua paham dan tidak mudah terpengaruh dg hal-hak yang serba menggiurkan dengan “instan”.
    Salam kenal

    Balas

    Sakazaki28 November 2011 18:48
    • Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan bahwa seorang anak biasa mengalami perubahan emosional pada usia akil baliq (remaja), hal ini disebabkan karena hilangnya kemampuan berpikir berdasarkan naluri pada anak yang memberikan rasa aman, nyaman dan digantikan dengan kemampuan berpikir menurut logika. Hal ini menyebabkan timbulnya sikap menentang dan sikap-sikap melawan lingkungan demi mencari jati diri yang lain yang biasa kita saksikan, dan periodenya berbeda-beda untuk tiap anak, dan hal ini memang mereka butuhkan demi perkembangan mereka, kemampuan naluri yang memberikan rasa aman hilang digantikan kemampuan berpikir logis. Apakah mungkin kemampuan berpikir naluri ini diperoleh dari otak tengah dan harus hilang setelah anak menginjak remaja? Apabila benar, berarti otak tengah memang tidak boleh diaktifkan karena pasti akan mengganggu siklus perkembangan yang lain.Mohon tanggapan ibu,demi perkembangan anak2 kita. Terimakasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: