aktivasi otak tengah perspektif pakar neurologi

aktivasi otak tengah perspektif pakar neurologi. berangkat dari sebuah mind power demonstration di http://gmc-indonesia.blogspot.com.

Di sana ditayangkan seorang anak yang mampu mendeteksi warna bola yang ditaruh di sebuah kotak. Dikatakan di sana bahwa telinga itu bisa melihat. Demonstrasi ini menggunakan banyak bola berwarna-warni, lalu memilih salah satu bola yang warnanya sama dengan bola yang ada di dalam kotak, dan hasilnya benar. Layaknya sulap … ada tepuk tangannya … hi hiii :D … lihat di situsnya.

Inti dari aktivasi otak tengah adalah menjadikan seorang anak memiliki kemampuan luar biasa, dia bisa melihat sesuatu yang terhijab/tertutup. Pelatihan otak tengah saat ini menggejala, meskipun untuk mengikutinya diperlukan uang antara 1,5 – 4 juta. Namanya juga orang tua, tentu saja akan melakukan apapun demi tumbuh kembang segala potensi yang dimiliki anaknya.

dengan otak tengah ini, aku sendiri juga penasaran, makana cari-cari info tentang ini dan nemuin raport yg judulnya aktivasi otak tengah , bernarkah! ditulis oleh Dr. Arman Yurisaldi S, MS, SpS seorang ahli saraf …

menurut dia, “pengaktifan otak tengah” adalah istilah yang sama sekali tidak berdasar ilmiah. beberapa pertimbangan yang disampaikan adalah:

a. Tidak menjelaskan secara detil nama jurnal ilmu kedokteran saraf yang dijadikan dasar metode ini.

Setiap penelitian kedokteran akan mempunyai nilai ilmiah bila dimuat di dalam jurnal. Masyarakat perlu mengetahui, bahwa tidak setiap penelitian sekelompok orang/peneliti yang dimuat dalam jurnal ilmiah kedokteran saraf (neurologi/neuroscience) ternama, misalnya AAN (American Academy of Neurology), BMJ (British Medical Journal), Journal of Cognitive and Neuroscience, New England Journal of Medicine, Journal of Neuroscience, Jounal of Neurology, Neuropsychiatry and Psychiatry dan masih banyak lagi jurnal-jurnal internasional lain tentang neuro-cognitif atau kecerdasan otak, sehingga akan dibaca dan dianalisis, apakah penelitian itu sudah memenuhi kaidah baku metode ilmiah atau belum.
Validity (validitas) yaitu apakah pengukuran dilakukan dengan alat ukur yang benar, misalnya mengukur berat badan dengan alat timbangan berat badan manusia bukan dengan alat timbangan lain yang tidak benar. Importancy (penting), yaitu apakah penelitian yang dimuat di adalam jurnal itu benar-benar penting dan applicability yaitu dalam aplikasinya mudah dilakukan yang akan dinilai oleh ribuan ahli saraf seluruh dunia.Proses ini disebut Critical Appraisal. Jadi suatu penemuan atau penelitian yang dimuat di dalam jurnal saja belum tentu tidak punya kelemahan apalagi yang sama sekali tidak dimuat akan sulit sekali menentukan suatu penelitian itu benar atau tidak, layak dan penting untuk diterapkan pada polpulasi yang perlu dikoreksi, dan mudah atau tidak penelitian itu dilaksanakan ulang. Jadi benar-benar tidak mudah bagi seorang ahli untuk memutuskan suatu penelitian itu layak diterapkan pada kelompok masyarakat yang akan di terapi.

b. Seorang ahli/sekelompok peneliti bisa saja menemukan suatu metode baru, yang telah dibuktikan secara ilmiah dengan metode baku, namun ahli lain belum melaporkan hal yang sama.

Jadi penemuan seperti ini bisa benar dan bisa pula salah. Untuk mengujinya memerlukan laporan-laporan data dari berbagai pusat-pusat penelitian dari seluruh penjuru dunia, yang hasil akhirnya akan melahirkan suatu rekomendasi-rekomendasi dengan kelas-kelas tertentu yang dikenal dengan Terapi Berbasis Bukti (Evidence Based Medicine).

Suatu pendapat seorang ahli diberi bobot kelas EBM IV (bila baru merupakan pendapat ahli), dan selama data-data lain belum terkumpul dari pusat-pusat penelitian lain, maka kelas terapi berbasis bukti masih menduduki tempat terendah. Seiring dengan bertambahnya laporan-laporan dalam hal penelitian yang sama maka kedudukan ini dapat semakin meningkat hingga mencapai tingkat EBM kelas I artinya penelitian itu sudah sangat kuat, multicenter , dengan metode penelitian uji klinis buta ganda, sehingga bagi seorang dokter bila ada suatu metode/terapi/obat yang telah mencapai EBM kelas I maka sudah selayaknya diberikan kepada para pasien.

Tidak semua terapi/metode/obat menduduki kelas EBM I ini, hal ini karena aneka hambatan misalnya kesulitan mencari subyek penelitian, kasus yang jarang dan biaya penelitian yang sangat mahal. Jadi metode pengaktifan otak tengah ini, selama hanya merupakan cara yang ditemukan oleh sekelompok orang dan belum menggunakan metode penelitian ilmiah, maka masih dalam tingkatan “pendapat ahli”, dan pada keadaan seperti ini tentu semua dikembalikan kepada para pasien yang memutuskan akan memakai metode ini atau tidak bagi anak-anak mereka setelah pendapat ahli itu banyak diulas oleh ahli lain. Walaupun data belum cukup namun bila logika berpikir benar dan sesuai dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan temuan para ahli sebelumnya maka pendapat ahli itu akan didukung dan penelitian serupa akan diikuti ahli-ahli yang lain guna memperkuat pendapat itu.

Namun bila seseorang berpendapat tentang sesuatu yang baru misalnya “ide perangsangan otak tengah anak” namun secara logika berpikir tidak sesuai dan mengandung hal-hal yang kemungkinan besar mustahil untuk diteliti dan secara kegunaan diperkirakan tidak berguna karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat itu (misalnya kemampuan anak membaca tanpa membuka mata, dengan fakta tak ada perbedaan dalam uji kecerdasan dengan alat standar antara anak yang membaca dengan membuka dibandingkan dengan yang menutup mata) maka jelas pendapat-pendapat seperti itu percuma saja untuk didukung.

Banyak penelitian yang tidak menggunakan metode dengan benar dan dibuktikan secara statistik bermakna, ternyata hanya merupakan efek plasebo atau bersifat sugestif saja.

c. Banyak istilah-istilah yang digunakan dalam situs ini, tidak dikenal dalam ilmu kedokteran saraf misalnya:

“gelombang otak yang dipancarkan oleh midbrain dapat membuat orang melihat dengan menutup mata”,
( tidak pernah ada dokter ahli saraf di seluruh dunia menulis dengan bahasa se-antik ini)

“rasa gembira akan membuka otak”…
(wah apalagi istilah ini)…,

”otak yang mid-brainnya belum teraktivasi hanya menggunakan sebagian kecil dari otak kiri, sehingga dapat terlalu keras menggunakan daya otak”,……
(bahasa ini bukan istilah lazim digunakan dalam dunia medis keras-lemah daya otak, apa yang dimaksud?)

”keadaan genius”…..
(mereka tidak menjelaskan apa arti kata keadaan genius itu?terkesan mereka bisa menciptakan anak genius dalam waktu singkat dimana keadaan sebelum dirangsang otak tengah,anak biasa-biasa saja, namun setelah dirangsang otak tengah ala mereka, mendadak berubah masuk ke dalam suatu keadaan, yaitu keadaan genius),

”memejamkan mata membantu anak memasuki interbrain”,
(wah ini lebih fatal lagi, tak ada dokter ahli saraf yang mengenal istilah interbrain, darimana sumber kata interbrain ini? Interbrain dalam kalimat di atas mengesankan masuk dalam suatu”keadaan” tertentu, jadi istilah interbrain adalah bikinan mereka sendiri, tanpa mengutip istilah dari dunia kedokteran saraf modern. Kalau sudah sejauh ini maka jelas semua teori mereka tidak menggunakan pijakan teori-teori temuan ahli saraf sebelumnya. Teori yang berbeda tentu tak ada dasarnya bagi kalangan medis, apalagi seorang dokter yang dididik berpikir ilmiah, praktis, aplikatif dan berbasis biomolekular selular untuk mendukung hal-hal tak berdasar jelas seperti ini),

”ketika otak tengah diaktifkan anak anda akan memiliki akses mudah baik otak kiri maupun kanan”…..
otak tengah bukan penghubung otak kiri dan kanan, namun penghubung otak besar dengan otak kecil, lalu apa yang dimaksud dengan akses? mereka membuat kesan promosi habis-habisan bahwa tak perlu merangsang otak kiri dengan pendidikan akademik di sekolah, juga tak perlu merangsang otak kanan dengan aneka seni yang melibatkan perasaan, cukup otak tengah saja maka kedua otak kiri dan kanan sudah aktif, luar biasa sekolah-sekolah akademik dan sekolah seni di seluruh dunia bisa tutup dan diganti dengan sekolah perangsangan otak tengah!). Semua pernyataan ini tidak berbasis bukti peralatan canggih seperti fMRI maupun PET scan,sehingga bagi seorang ahli saraf tentu sangat meragukan.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas sebagai ahli saraf tentu saya tidak akan memberikan rekomendasi agar setiap orang mengikutkan anak-anaknya dengan menggunakan metode ini, sampai mekanisme yang logis dan ilmiah benar-benar terkuak melalui studi-studi yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya secara kedokteran saraf modern. Namun hal ini kemungkinannya sangat kecil, mengingat aspek bisnis (biaya sangat besar) menjadi latar belakang dan resep rahasia bagi mereka agar kegiatan ini bisa jalan terus dan menghasilkan keuntungan yang besar bagi pengelolanya terutama yang berpusat di Malaysia. Dasar teori yang mereka sampaikan tidak jelas. demikian dipaparkan oleh Dr. Arman Yurisaldi S, MS, SpS.

wallahu’alam …

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: